Tentang Ilmu yang Menemukan Rumahnya

author avatar
PP Nahdlatussubban
Mar 19, 2026 2 weeks ago
hero image

Barangkali, cara terbaik untuk benar-benar mengenal diri adalah dengan memberanikan diri "terjun" ke dalam pelukan masyarakat. Sebab di sanalah, kita tidak hanya dipertemukan dengan wajah-wajah baru, tetapi juga dengan beragam sifat dan kebiasaan yang mendewasakan jiwa. Inilah yang dirasakan dalam perjalanan Safari Ramadhan santri kelas 3 MA Nahdlatussubban, yang sejak pertengahan Februari hingga Maret lalu, melabuhkan khidmahnya di Dusun Klepu, Desa Donorojo.

Bagiku, perjalanan ini bukanlah sekadar perpindahan raga dari satu titik ke titik lain. Ia adalah sebuah tradisi indah tentang merajut kembali tali silaturahmi yang barangkali sempat renggang oleh jarak. Diantara rimbunnya alam Pacitan, tersimpan cerita tentang bagaimana nilai-nilai pesantren coba diselaraskan dengan detak jantung warga desa.

Selama berada di Dusun Klepu, hidup terasa bergerak jauh lebih efektif. Setiap detik seolah memiliki detaknya sendiri untuk hal-hal yang bermakna. Agenda demi agenda mengalir begitu syahdu—mulai dari tegur sapa hangat dengan tuan rumah, membimbing jemari adik-adik saat mengaji, hingga berbagi wawasan di sekolah-sekolah dalam balutan Pondok Ramadhan. Di sela-sela tadarus dan doa bersama di masjid, ada ukhuwah yang perlahan namun pasti semakin mengakar kuat.

Ada sebuah rasa haru yang tak terlukiskan ketika menatap binar mata adik-adik dan rekan sebaya yang menyimak setiap materi dengan saksama. Di titik itulah, muncul sebuah kesadaran: bahwa setiap butir ilmu yang selama ini dituntut dengan susah payah di pondok, baru akan benar-benar terasa "hidup" saat ia mulai dibagikan. Langkah kaki yang menyusuri setiap sudut dusun pun tak lagi terasa melelahkan, karena ada misi membawa cahaya kecil bagi mereka yang sudi mendengarkan.

Sebab pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, melainkan tentang bagaimana kita mampu menebar kebermanfaatan. Safari ini mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya; dan cahaya tidak akan pernah redup hanya karena ia menyinari kegelapan orang lain. Semoga setiap khidmah ini menjadi amal jariyah yang abadi, baik bagi pelakunya maupun bagi hangatnya masyarakat Dusun Klepu.

Cerita oleh: Nabila Auradea Kusuma—disunting oleh: Agung Wibowo